Langsung ke konten utama

Postingan

 [berlalu] Di sebuah desa kecil yang dikelilingi pegunungan, hiduplah seorang pemuda bernama Budi. Dihidupnya, Budi menyaksikan perubahan musim yang berganti dengan cepat, dari musim hujan yang mendatangkan "kesedihan" hingga musim panas yang memberi harapan. Namun, di dalam hati Budi, ada satu perasaan yang tak pernah bisa ia lepaskan: kehilangan. Beberapa tahun lalu, Budi kehilangan seseorang yang sangat ia cintai-Ani, gadis yang tumbuh bersamanya di desa itu. Mereka saling berbagi impian dan tawa, namun suatu hari Ani harus pindah ke kota besar, meninggalkan Budi sendirian. Budi merasa hidupnya tak lagi lengkap, seolah waktu berhenti begitu Ani pergi. Hari demi hari, Budi merindukan Ani, dan segala kenangan bersama Ani terasa begitu kuat. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari bahwa waktu tak akan pernah berhenti.  Satu hari, saat musim panas datang, ia duduk di bawah pohon besar yang dulu sering mereka tempati bersama, memandangi langit biru yang cerah. Perl...
Postingan terbaru
 [ini] "Biruni" pemuda desa yang biasa dipanggil Biru, ia merasa terjebak dalam rutinitas harian yang monoton. Setiap hari bekerja di Toko beras milik neneknya, dan kemudian pulang ke rumah untuk tidur. Tidak ada yang baru, tidak ada yang menarik. Hidup Biru terasa seolah-olah berputar di tempat yang sama. Namun, suatu malam, saat ia berjalan pulang setelah seharian bekerja, ia melihat langit yang begitu indah. Bintang-bintang berkilauan dan angin malam yang sejuk menyentuh kulitnya. Biru berhenti sejenak, menatap langit, dan dalam hati ia berkata, "Ini... semua ini, akan ada maknanya." Ia tidak tahu mengapa kata-kata itu muncul begitu saja, tetapi seketika, perasaan yang telah lama terkubur dalam dirinya terbangun. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar rutinitas harian, sesuatu yang menanti untuk ditemukan. Keesokan harinya, Biru memutuskan untuk mulai mencari hal-hal baru, mencoba menjelajahi kota yang selama ini ia anggap biasa saja. Ia mengunjungi tempat-tempat ya...
 Hari ketiga di tahun 2025, aku mau bercerita tentang "tempat ketiga," atau yang biasa disebut third place. Aku pertama kali mengenal istilah ini dari video YouTube Bang Raditya Dika. Sayangnya, aku lupa judul videonya. Yang kuingat, dia membahas sebuah buku yang dibaca bersama teman atau tim kreatifnya. Dalam pembahasannya, dijelaskan bahwa tempat ketiga merupakan suatu tempat atau lokasi selain rumah (rumah di sini merupakan tempat pertama) dan tempat kerja atau sekolah (tempat kedua), di mana seseorang bisa bersantai, berkumpul, dan bersosialisasi. Sebenarnya, sebelum mengenal istilah ini, aku sudah sering mengunjungi tempat-tempat yang bisa disebut "tempat ketiga," terutama di hari libur atau setelah pulang kerja. Apalagi saat bekerja shift malam, karena sudah melewati jam-jam mengantuk, kadang aku sering merasa sulit untuk langsung pulang ke rumah. Ada banyak tempat yang biasa aku jadikan third place, seperti teras toko ritel AKA Alfamart/Indomaret, gazebo di a...
πŸ‘£πŸ“ΈπŸ»‍❄️ “Dimana-pun kaki berpijak, di situ ilmu berjejak; pada siapa pun kita bertemu, ada pelajaran menunggu.” “Hidup adalah sekolah tanpa dinding, dan manusia adalah guru tanpa gelar.” “Setiap tempat adalah ruang belajar, dan setiap jiwa adalah pengajar.” Untuk menjadi seorang murid yang "benar" harus mempunyai prinsip dasar yaitu berprinsip "selalu mengosongkan gelas". “Selalu kosongkan gelas saat bertemu orang baru” punya makna yang selaras dengan sikap rendah hati dalam belajar. “Gelas” di sini adalah simbol pikiran dan perasaan kita. Mengosongkannya berarti datang tanpa prasangka, tanpa merasa paling tahu, dan tanpa membawa ego. Dengan begitu, kita lebih siap menerima sudut pandang baru, pengalaman orang lain, dan pelajaran yang mungkin tidak pernah kita dapat sebelumnya. Kalau gelas sudah penuh merasa sudah cukup tahu, cepat menghakimi, atau menutup diri maka apa pun yang dituangkan tidak akan masuk. Tapi ketika kita “mengosongkan gelas”, kita memberi ruang...

Manusia terindah adalah mereka yang khawatir lisannya menyakiti manusia lain.

Pada akhir tahun 2024, hiduplah seorang pemuda bernama Bery Muis. Bery menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia, meskipun rutinitasnya membosankan, dia selalu berusaha menikmati kehidupannya dengan rasa syukur. Pada malam pergantian tahun menuju 1 Januari 2025, bertemulah Bery dengan manusia yang berstatus teman lama, yang bekerja di luar kota bernama Abai. Mereka bertemu di sebuah Rumah Makan atau restoran sederhana tempat Bery bekerja, yang terletak di sebuah kota kecil. Akhirnya terjadilah percakapan diantara mereka: "Wah Bery, lama ya kita tidak bertemu?" ucap Abai. "Loh Abai, gak ada acara bakar-bakar kah, di malam ini?" jawab Bery dengan kalimat  spontannya yang malah bertanya balik. "Sudah tadi malam Ber." saut Abai. Sambil mengambil gelas dan piring kosong di samping Abai duduk, dengan sedikit tergesa Bery berkata: "Eh Bai lanjut bentar lagi ya ngobrolnya!" ucap Bery dengan nada penuh antusias, mungkin karena sudah lama dia tidak...

Enjoy The Now

Jika 2024 adalah tentang perjalanan, maka 2025 akan menjadi tahun di mana aku ingin melangkah lebih perlahan. Bukan karena aku ragu atau takut, tetapi karena aku sadar, terlalu terburu-buru sering membuatku lupa menikmati hal-hal kecil yang berharga di sepanjang jalan. Aku ingin memberi diriku waktu untuk benar-benar merasakan setiap momen, setiap pelajaran, dan setiap pengalaman yang datang. Hidup ini bukan sekadar tentang mencapai tujuan, tapi juga tentang menikmati proses menuju ke sana. Kadang, aku memang merasa "iri" melihat orang lain yang terlihat sudah jauh lebih dulu sampai. Mereka seakan melaju dengan kecepatan penuh, sementara aku masih berhenti di pinggir jalan, memeriksa peta atau merapikan perbekalan. Tapi aku mulai paham, setiap orang punya perjalanan yang unik. Ada yang memilih jalan cepat, ada yang mengambil rute memutar, dan ada pula yang berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang mereka pilih, dan aku juga pun...

Nasihat di bawah pohon

Setelah setengah selesai pekerjaanku, aku meneduhkan diri dari panasnya terik di siang hari itu, tepatnya berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri dan mengucap permisi untuk ikut duduk bareng, "aku jawab iya silahkan" dengan suara yang pelan dan sedikit anggukan kepala untuk menandakan aku setuju bapak itu duduk bareng.  Sepertinya bapak ini memang memperhatikan aku dari jauh saat aku bekerja mungkin karena aku bekerja sendirian, tidak berselang lama setelah merasakan kesejukan angin yang berhembus dan rindangnya dedaunan pohon yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari percakapan kecil pun dimulai, aku mulai menceritakan kenapa bekerja sendirian, bapak itu mulai menceritakan pengalamannya sejak pertama bekerja mencari nafkah, hingga sampai di pembicaraan yang sangat aku sukai yaitu nasihat dari bapak tersebut;  " Nak, memang sendirian itu menenangkan meskipun pengorbanannya adalah kesepian."  "mungkin ...