Langsung ke konten utama

Manusia terindah adalah mereka yang khawatir lisannya menyakiti manusia lain.

Pada akhir tahun 2024, hiduplah seorang pemuda bernama Bery Muis. Bery menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bahagia, meskipun rutinitasnya membosankan, dia selalu berusaha menikmati kehidupannya dengan rasa syukur. Pada malam pergantian tahun menuju 1 Januari 2025, bertemulah Bery dengan manusia yang berstatus teman lama, yang bekerja di luar kota bernama Abai. Mereka bertemu di sebuah Rumah Makan atau restoran sederhana tempat Bery bekerja, yang terletak di sebuah kota kecil. Akhirnya terjadilah percakapan diantara mereka:


"Wah Bery, lama ya kita tidak bertemu?" ucap Abai.


"Loh Abai, gak ada acara bakar-bakar kah, di malam ini?" jawab Bery dengan kalimat  spontannya yang malah bertanya balik.


"Sudah tadi malam Ber." saut Abai.


Sambil mengambil gelas dan piring kosong di samping Abai duduk, dengan sedikit tergesa Bery berkata:


"Eh Bai lanjut bentar lagi ya ngobrolnya!" ucap Bery dengan nada penuh antusias, mungkin karena sudah lama dia tidak pernah bertemu dengannya.


Setelah semuanya selesai Bery mendekati Abai untuk melanjutkan obrolannya.


"Gimana kabarnya Bai? Alhamdulillah sehat terus kan?" tanya Bery dengan antusiasnya.


"Iya Ber sehat, gak nyangka aku bisa ketemu kamu di sini bahkan malah jadi tempat kerjamu. jawab Abai.


"Iya aku juga rada kaget sih, bisa bertemu di sini kita." saut Bery.


"Sudah lama kah kamu kerja disini, berapa Bery gajinya?" tanya Abai.


"Ohh sudah setahun lebih sih Alhamdulillah, sejuta sama tambahan bonus kalau rame pembeli Bai." jawab Bery dengan sedikit canggung karena rada kaget tiba-tiba ditanya dengan pertanyaan seperti itu oleh orang yang sudah lama tidak bertemu.

 

"Lumayan ya, kota kecil sih. Tapi cukuplah kalau hanya untuk seorang diri Ber, kalau kota besar murah segitu." kata Abai.


Entah karena merasa sudah tidak nyaman dan canggung, akhirnya Bery mencari alasan agar tidak melanjutkan obrolannya.


"Nanti lanjut lagi deh, aku tidak enak kalau terlalu lama ngobrolnya ke temen kerja yang lain." Kata Bery.


Setelah itu Bery pergi mendekati teman kerjanya, yang sekaligus senior dia di restoran itu. 


"Temenmu Ber?" Ahmad bertanya pada Bery.


"Iya mas Ahmad, temen lama sih." saut Bery dengan lesu.


"Lanjut aja mah, malam ini gabegitu rame maklum awal tahun baru, mungkin banyak yang family time, aku bisa handle kok." kata seniornya itu.


"Iya mas aman kok, sudah juga ngobrol-ngobrolnya." jawab Bery.


Sejak saat itu berubahlah perasaan bahagia dan rasa syukur yang selalu diusahakan Bery Muis. Beberapa hari berikutnya dia bangun untuk berangkat kerja terasa berat, karena pikirannya sudah muncul membanding-bandingkan gajinya dengan orang lain. Seakan beban pikirannya mendapat bonus tambahan yang biasanya dia hanya berusaha tenang dengan pertanyaan kapan menikah dan isu pajak naik di tahun ini, sekarang tiba-tiba dapat beban bonus yang mengurangi rasa syukurnya pada gaji atau rezeki yang dia terima. 


Singkat cerita Bery berhenti kerja di restoran itu karena merasa kinerjanya yang kurang baik sebab semangatnya berkurang karena beban pikirannya itu. Akhirnya dia lebih memilih menganggur dan mencari kerja dengan gaji yang dia inginkan. 

Sekarang dia berusaha untuk mendapat pekerjaan yang dia inginkan dengan kontrak masa percobaan 6 sampai 7 bulan dengan gaji 30 juta. 


Seiring waktu lama menganggur dan masih terjebak dibeban pikirannya, akhirnya ada hidayah yang datang kepadanya, tanpa sengaja melalui telepon genggam yang dia pegang, dia diingatkan lagi tentang berita sedih dari saudara-saudaranya di Palestina yang sedang berjuang, dia tersadar  bahwa keinginan untuk mendapat gaji yang besar itu karena kurangnya rasa bersyukur sehingga membandingkan nikmat yang dia terima dengan nikmat punya orang lain.

Bery tersadar merasa kurang sopan mengharap gaji sebesar itu di kota yang kecil, mungkin bisa saja dia bekerja dengan rentang waktu singkat seperti itu dengan gaji besar yang dia harapkan, namun sepertinya hati kecilnya tersentuh, bisa saja dia merugikan dan mengambil hak-hak orang lain dengan gaji yang tidak masuk akal itu. Tamat.

~

Dari cerita singkat ini pesannya adalah berhati-hatilah dengan ucapan yang ingin kita katakan kepada orang lain. Bisa saja ucapan yang kita anggap sekedar pertanyaan atau candaan, menyebabkan sakit hati atau membuat orang lain kehilangan kebahagiaan sederhananya, yang sudah mereka bangun mati-matian, karena kita tidak tahu beban atau perjuangan yang orang lain sedang hadapi. 

~

Apa pesan lain yang bisa diambil dari cerita Bery Muis?


#30hbc25

#30haribercerita

#tulisanubai


Catatan: cerita pendek ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian atau kesamaan cerita, itu adalah kebetulan semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nasihat di bawah pohon

Setelah setengah selesai pekerjaanku, aku meneduhkan diri dari panasnya terik di siang hari itu, tepatnya berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri dan mengucap permisi untuk ikut duduk bareng, "aku jawab iya silahkan" dengan suara yang pelan dan sedikit anggukan kepala untuk menandakan aku setuju bapak itu duduk bareng.  Sepertinya bapak ini memang memperhatikan aku dari jauh saat aku bekerja mungkin karena aku bekerja sendirian, tidak berselang lama setelah merasakan kesejukan angin yang berhembus dan rindangnya dedaunan pohon yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari percakapan kecil pun dimulai, aku mulai menceritakan kenapa bekerja sendirian, bapak itu mulai menceritakan pengalamannya sejak pertama bekerja mencari nafkah, hingga sampai di pembicaraan yang sangat aku sukai yaitu nasihat dari bapak tersebut;  " Nak, memang sendirian itu menenangkan meskipun pengorbanannya adalah kesepian."  "mungkin ...

Enjoy The Now

Jika 2024 adalah tentang perjalanan, maka 2025 akan menjadi tahun di mana aku ingin melangkah lebih perlahan. Bukan karena aku ragu atau takut, tetapi karena aku sadar, terlalu terburu-buru sering membuatku lupa menikmati hal-hal kecil yang berharga di sepanjang jalan. Aku ingin memberi diriku waktu untuk benar-benar merasakan setiap momen, setiap pelajaran, dan setiap pengalaman yang datang. Hidup ini bukan sekadar tentang mencapai tujuan, tapi juga tentang menikmati proses menuju ke sana. Kadang, aku memang merasa "iri" melihat orang lain yang terlihat sudah jauh lebih dulu sampai. Mereka seakan melaju dengan kecepatan penuh, sementara aku masih berhenti di pinggir jalan, memeriksa peta atau merapikan perbekalan. Tapi aku mulai paham, setiap orang punya perjalanan yang unik. Ada yang memilih jalan cepat, ada yang mengambil rute memutar, dan ada pula yang berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang mereka pilih, dan aku juga pun...

Hai aku Ubai

Blog ini dibuat sebagai tempat aku bercerita dan berlogika apa yang sedang terpikir di kepala. Tidak ada tulisan sempurna di blog ini jadi jangan berharap lebih, tapi terima kasih bagi yang tidak sengaja membaca ataupun mengisi waktu gabutnya untuk membaca dan menjadi pendengar dari sebagian ceritaku, harapanku semoga ada  manfaat dari blog ini :)