Langsung ke konten utama

Nasihat di bawah pohon

Setelah setengah selesai pekerjaanku, aku meneduhkan diri dari panasnya terik di siang hari itu, tepatnya berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri dan mengucap permisi untuk ikut duduk bareng, "aku jawab iya silahkan" dengan suara yang pelan dan sedikit anggukan kepala untuk menandakan aku setuju bapak itu duduk bareng. 
Sepertinya bapak ini memang memperhatikan aku dari jauh saat aku bekerja mungkin karena aku bekerja sendirian, tidak berselang lama setelah merasakan kesejukan angin yang berhembus dan rindangnya dedaunan pohon yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari percakapan kecil pun dimulai, aku mulai menceritakan kenapa bekerja sendirian, bapak itu mulai menceritakan pengalamannya sejak pertama bekerja mencari nafkah, hingga sampai di pembicaraan yang sangat aku sukai yaitu nasihat dari bapak tersebut; 
" Nak, memang sendirian itu menenangkan meskipun pengorbanannya adalah kesepian." 
"mungkin istilahnya kamu adalah pemanjat pohon mangga yang jago, jadi tidak perlu tangga untuk sampai ke atas pohonnya, tapi ketika kamu sudah di atas bukankah kamu kesulitan untuk memetik buahnya langsung, meskipun bapak yakin kamu bisa tapi akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai buah mangga itu, sehingga kamu memerlukan galah dan alat jaring buah." "Setelah itu kamu masih membutuhkan arahan atau petunjuk orang yang ada dibawah agar bisa mengetahui letak buah mangga yang akan dipetik karena terlahang dedaunannya." 
 “Undzur ma qala wa la tandzur man qala,” yang artinya  "lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan". Mungkin itu sedikit nasihat yang bisa bapak ucapkan sebab bapak juga mendapatkan nasihat ini dari orang lain. Sambil bergegas mengambil peralatan kerjanya, berdiri lalu pergi dengan salam. #Ini hanya cerita singkat dari cerita sebenarnya yang sangat panjang! 




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Enjoy The Now

Jika 2024 adalah tentang perjalanan, maka 2025 akan menjadi tahun di mana aku ingin melangkah lebih perlahan. Bukan karena aku ragu atau takut, tetapi karena aku sadar, terlalu terburu-buru sering membuatku lupa menikmati hal-hal kecil yang berharga di sepanjang jalan. Aku ingin memberi diriku waktu untuk benar-benar merasakan setiap momen, setiap pelajaran, dan setiap pengalaman yang datang. Hidup ini bukan sekadar tentang mencapai tujuan, tapi juga tentang menikmati proses menuju ke sana. Kadang, aku memang merasa "iri" melihat orang lain yang terlihat sudah jauh lebih dulu sampai. Mereka seakan melaju dengan kecepatan penuh, sementara aku masih berhenti di pinggir jalan, memeriksa peta atau merapikan perbekalan. Tapi aku mulai paham, setiap orang punya perjalanan yang unik. Ada yang memilih jalan cepat, ada yang mengambil rute memutar, dan ada pula yang berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan. Semua itu adalah bagian dari perjalanan yang mereka pilih, dan aku juga pun...

Hai aku Ubai

Blog ini dibuat sebagai tempat aku bercerita dan berlogika apa yang sedang terpikir di kepala. Tidak ada tulisan sempurna di blog ini jadi jangan berharap lebih, tapi terima kasih bagi yang tidak sengaja membaca ataupun mengisi waktu gabutnya untuk membaca dan menjadi pendengar dari sebagian ceritaku, harapanku semoga ada  manfaat dari blog ini :)