Setelah setengah selesai pekerjaanku, aku meneduhkan diri dari panasnya terik di siang hari itu, tepatnya berteduh di bawah sebuah pohon yang cukup rindang, tiba-tiba seorang bapak-bapak menghampiri dan mengucap permisi untuk ikut duduk bareng, "aku jawab iya silahkan" dengan suara yang pelan dan sedikit anggukan kepala untuk menandakan aku setuju bapak itu duduk bareng.
Sepertinya bapak ini memang memperhatikan aku dari jauh saat aku bekerja mungkin karena aku bekerja sendirian, tidak berselang lama setelah merasakan kesejukan angin yang berhembus dan rindangnya dedaunan pohon yang melindungi kami dari teriknya sinar matahari percakapan kecil pun dimulai, aku mulai menceritakan kenapa bekerja sendirian, bapak itu mulai menceritakan pengalamannya sejak pertama bekerja mencari nafkah, hingga sampai di pembicaraan yang sangat aku sukai yaitu nasihat dari bapak tersebut;
" Nak, memang sendirian itu menenangkan meskipun pengorbanannya adalah kesepian."
"mungkin istilahnya kamu adalah pemanjat pohon mangga yang jago, jadi tidak perlu tangga untuk sampai ke atas pohonnya, tapi ketika kamu sudah di atas bukankah kamu kesulitan untuk memetik buahnya langsung, meskipun bapak yakin kamu bisa tapi akan membutuhkan waktu yang lama untuk mencapai buah mangga itu, sehingga kamu memerlukan galah dan alat jaring buah." "Setelah itu kamu masih membutuhkan arahan atau petunjuk orang yang ada dibawah agar bisa mengetahui letak buah mangga yang akan dipetik karena terlahang dedaunannya."
“Undzur ma qala wa la tandzur man qala,” yang artinya "lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan". Mungkin itu sedikit nasihat yang bisa bapak ucapkan sebab bapak juga mendapatkan nasihat ini dari orang lain. Sambil bergegas mengambil peralatan kerjanya, berdiri lalu pergi dengan salam. #Ini hanya cerita singkat dari cerita sebenarnya yang sangat panjang!

gudd sekali bahasa komunikasinya,
BalasHapus